Pengertian Mengenai Stratifikasi Sosial Beserta Bentuknya

Pengertian Mengenai Stratifikasi Sosial Beserta Bentuknya

Posted on

Pengertian Mengenai Stratifikasi Sosial Beserta Bentuknyaanwarsigit.com – Pengertian Stratifikasi Sosial Istilah stratifikasi berasal dari kata stratum (struktur tunggal) yang dimajemukkan menjadi strata yang berarti lapisan-lapisan. Jadi, stratifikasi sosial yang ditunjukkan oleh kepentingan etimologis berarti pembedaan penduduk atau anggota masyarakat ke dalam lapisan-lapisan hierarkis (berlapis).

Stratifikasi sosial berasal dari bahasa latin “stratum” (tunggal) atau “strata” (jamak) yang artinya berlapis-lapis. Dalam sosiologi, stratifikasi sosial dapat diartikan sebagai pembedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas secara bertahap.

Beberapa definisi stratifikasi sosial :

  • Pitirim A. Sorokin
    Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang tersusun secara bertingkat (hierarki).
  • Max Weber
    Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai penggolongan orang-orang yang termasuk dalam suatu sistem sosial tertentu ke dalam lapisan-lapisan hierarki menurut dimensi kekuasaan, previllege dan prestise.
  • Cuber
    Mendefinisikan stratifikasi sosial sebagai suatu pola yang ditempatkan di atas kategori dari hak-hak yang berbeda.

Silaturahmi Vertikal Berdasarkan kedudukan, status, kelebihan yang dimiliki, sesuatu yang dihargai. Pembagian hak dan wewenang Kriteria ekonomi, sekolah, kekuasaan, kehormatan

Karakteristik Stratifikasi Sosial

Stratifikasi sosial lebih mencemaskan adanya dua atau lebih kelompok yang terstratifikasi dalam suatu masyarakat tertentu, yang anggota-anggotanya memiliki kekuasaan, privilese, dan prestise yang tidak konsisten. Inti dari stratifikasi sosial adalah perbedaan akses mulai dari satu pertemuan kemudian ke pertemuan berikutnya dalam menggunakan sumber daya. Jadi, dalam stratifikasi sosial, derajat kekuatan, kehormatan, dan gengsi seseorang bergantung pada keanggotaannya dalam suatu perkumpulan sosial, bukan pada karakteristik pribadinya.

Secara rinci, ada tiga aspek yang merupakan karakteristik stratifikasi sosial, yaitu:

  • Perbedaan dalam kemampuan atau kesanggupan.
  • Perbedaan dalam gaya hidup
  • Perbedaan dalam hal akses dalam memanfaatkan sumber daya.

Unsur-unsur Stratifikasi Sosial

Dalam teori sosiologi, unsur-unsur sistem pelapisan sosial dalam masyarakat adalah:

  • 1. Kedudukan (Status)

 

Kedudukan (status) sering dibedakan dengan kedudukan sosial (Social Status). Posisi adalah tempat atau kedudukan seseorang dalam suatu perkumpulan sosial, terhadap orang lain dalam perkumpulan tersebut, atau tempat suatu perkumpulan yang berhubungan dengan kelompok lain dalam suatu perkumpulan yang lebih besar.

Sedangkan kedudukan sosial adalah tempat seseorang secara keseluruhan dalam masyarakat sehubungan dengan individu lain, dalam arti lingkungan sosialnya, gengsi, hak, dan kewajibannya. Untuk mengukur status seseorang menurut Pitirim Sorokin secara mendalam, harus dilihat dari:

  • Jabatan atau pekerjaan
  • Pendidikan dan luasnya ilmu pengetahuan
  • Kekayaan
  • Politis
  • Keturunan, dan
  • Agama

 

Pada dasarnya status dapat dibagi menjadi dua jenis, yaitu tujuan dan subyektif. Kedudukan, jika dipisahkan dari orang yang memilikinya, hanyalah bermacam-macam hak dan kewajiban. Namun karena hak dan kewajiban tersebut harus dilakukan melalui perantara individu, maka sulit untuk memisahkannya secara kokoh dan tidak fleksibel.

Gagasan stratifikasi masyarakat terdiri dari dua macam, yaitu stratifikasi sosial tertutup (closed social stratification) dan (stratifikasi sosial terbuka) open social stratification. Sistem stratifikasi sosial tertutup artinya memungkinkan seseorang atau perkumpulan berpindah dari lapisan sosial lain ke atas, adapun beberapa gejala stratifikasi sosial ini antara lain:

  1. Sosial dalam struktur masyarakat abad pertengahan dan sistem kasta dapat dikatakan sebagai jenis stratifikasi sosial tertutup, karena dalam stratifikasi sosial masyarakat primitif akan sulit bagi seseorang atau perkumpulan untuk memasuki lapisan sosial tertentu. Seseorang yang posisinya berada pada tingkat sosial yang lebih rendah, seperti manusia biasa, akan sulit baginya untuk memiliki strata sosial di samping perkumpulan bangsawan yang dianggap sebagai perkumpulan bangsawan.
  2. Dalam sistem kasta tidak mungkin seseorang dari kasta Sudra melibatkan kedudukan kasta Ksatria, dsb.
  3. Dalam stratifikasi berdasarkan kemanusiaan, sistem stratifikasi sosial tertutup juga dapat ditemukan, seperti dalam politik apartheid di Afrika Selatan yang menempatkan komunitas kulit hitam sebagai strata sosial terendah.

Stratifikasi sosial berdasarkan sifatnya dibedakan menjadi 2, yaitu:

  • Stratifikasi sosial terbuka (kemungkinan dapat berpindah kedudukan bisa terjadi)
  • Stratifikasi sosial tertutup (perpindahan kedudukan sosial yang sangat terbatas atau bahkan tidak ada).

Macam-macam Stratifikasi Sosial Berdasarkan Cara Memperolehnya:

1) Ascribed Status
Ascribed status adalah status yang diperoleh seseorang secara alamiah, mengandung pengertian bahwa kedudukan yang melekat pada diri seseorang diperoleh tanpa melalui serangkaian usaha. Beberapa status sosial yang melekat pada seseorang yang diperoleh secara konsekuen meliputi:

  1. Status perbedaan usia (age stratification)
    Pada umumnya dalam masyarakat Indonesia terdapat pembagian hak dan kewajiban antara mereka yang lebih mapan dan mereka yang lebih muda. Sebuah model harus terlihat dalam ritual keagamaan Islam di mana pembaca petisi selalu memprioritaskan orang yang lebih tua, jenis penghormatan lain untuk individu yang lebih berpengalaman adalah dengan mengundang mereka untuk duduk di kolom pertama.
  2. Stratifikasi berdasarkan jenis kelamin (gender sex stratification)
    Misalnya laki-laki adalah pemimpin bagi perempuan, dimana tugas perempuan adalah di dapur, sumur, kasur. Namun, pergeseran sosial-sosial juga berdampak di mana wanita terkadang memiliki status yang lebih tinggi daripada pria.
  3. Status yang didasarkan pada sistem kekerabatan
    Fenomena ini seharusnya terlihat dari berbagai peran yang harus dimainkan oleh setiap kerabat dalam sebuah rumah tangga. Perkembangan kedudukan kepala keluarga, ibu rumah tangga dan anak.
  4. Stratifikasi berdasarkan kelahiran (born stratification)
    Seorang anak yang dilahirkan akan memiliki status sosial yang mengekor pada status sosial orang tuanya.
  5. Stratifikasi berdasarkan kelompok tertentu (grouping stratification)
    Perbedaan ras yang sering menimbulkan pemahaman bahwa kelompok manusia tertentu memiliki kedudukan yang lebih tinggi dari manusia lainnya masih sering dijumpai sebagai bagian dari fenomena sosial. Beberapa individu memahami bahwa ras kulit putih lebih unggul daripada ras kulit hitam.

2) Achieved Status
Status Tercapai adalah status yang dibawa melalui perjuangan seseorang. Pola-pola tersebut biasanya terjadi pada struktur sosial yang telah mengalami perubahan dari pola tradisional ke pola modern. Biasanya struktur sosial lebih terbuka sehingga membuka peluang bagi siapa saja untuk mencapai status sosial ekonomi sesuai dengan tujuannya masing-masing. Beberapa contoh model adalah:

  • Stratifikasi berdasarkan jenjang pedidikan (education stratification)
  • Startifikasi berdasarkan senioritas ( seniority stratification)
  • Stratifikasi di bidang pekerjaan (jobstratification)
  • Stratifikasi di bidang ekonomi (economicstratification)
READ ALSO :   Download GB WhatsApp Pro Apk Terbaru 2022

3) Assigned Status
Status yang ditetapkan adalah status sosial yang diperoleh seseorang atau kelompok dari memberi. Namun status sosial yang didapat dari pemberian ini sebenarnya tidak luput dari jerih payah seseorang atau perkumpulan sehingga dengan pekerjaan ini ia mendapat kehormatan.

  • 2. Peran (Role)

 

Pekerjaan adalah aspek status yang kuat. Artinya, seseorang telah melakukan hak dan kewajibannya yang ditunjukkan dengan jabatannya, maka orang tersebut telah menyelesaikan suatu pekerjaan.

Pekerjaan yang melekat pada seseorang harus dibedakan dari posisinya atau tempatnya dalam kolaborasi sosial. Kedudukan atau kedudukan seseorang dalam masyarakat (social-position) merupakan komponen statis yang mengacu pada kedudukan tunggal dalam organisasi masyarakat. Sedangkan pekerjaan lebih mengacu pada pekerjaan, menyiratkan bahwa seseorang menduduki posisi tertentu dalam masyarakat dan melaksanakan suatu pekerjaan. Pekerjaan mencakup sesuatu seperti tiga 3 hal, khususnya:

  1. Peran meliputi norma-norma yang dihubungkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam msyarakat
  2. Peran adalah suatu konsep ikhwal apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam masyarakat, dan
  3. Peran dapat dikatakan sebagai perilaku individu yang penting bagi struktur sosial masyarakat

Peranan dapat membimbing seseorang dalam berprilaku, karena fungsi peran sendiri adalah sebagai berikut:

  • Memberi arah pada proses sosialisasi
  • Pewarisan tradisi, kepercayaan, nilai-nilai, norma-norma, dan pengetahuan.
  • Dapat mempersatukan kelompok atau masyarakat
  • Menghidupkan sistem pnegendalian kontrol, sehingga dapat melestarikan kehidupan masyarakat.

Peranan sosial yang ada dalam masyarakat dapat diklasifikasikan menurut bermacam-macam cara sesuai dengan banyaknya sudut pandang. Berbagai macam peranan dapat disebutkan sebagai berikut.

Berdasarkan pelaksanaannyaperanan sosial dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

  1. Peranan yang diharapkan (expected roles)
    Cara ideal dalam pelaksanaan peranan menurut penilaian masyarakat.
  2. Peranan yang disesuaikan (actual roles)
    Cara bagaimana sebenarnya peranan itu dijalankan.

Sementara itu, berdasarkan cara memperolehnya, peranan bisa dibedakan menjadi:

  • Peranan bawaan (ascribed status)
    Peranan yang diperoleh secara otomatis.
  • Peranan pilihan (achieves role)
    Peranan yang diperoleh atas keputusan sendiri

Macam-Macam Stratifikasi SosialMacam-Macam Stratifikasi Sosial Berdasarkan Cara Pemerolehannya

Stratifikasi sosial didasarkan pada status sosial yang diperoleh oleh seseorang dalam suatu kelompok masyarakat. Berdasarkan cara pemerolehannya stratifikasi sosial dibagi menjadi dua yaitu :

Diperoleh Secara Alami

  • Stratifikasi Berdasarkan Perbedaan Usia
    Umumnya anggota masyarakat yang berusia lebih muda mempunyai hak dan kewajiban yang berbeda dengan anggota masyarakat yang lebih tua.
  • Stratifikasi Sosial Berdasarkan Senioritas
    Senioritas menyangkut usia dan jenjang pengalaman akan sesuatu hal. Asas senioritas tampak sekali dalam dunia kerja misalnya dalam hal kenaikan pengkat atau golongan.
  • Stratifikasi Berdasarkan Jenis Kelamin
    Perbedaan status berdasarkan jenid kelamin ini biasanya sangat dipengerahui oleh tradisi dan ajaran mengenai harkat dan martabat pria dan wanita dalam pergaulan sehari-hari.
  • Stratifikasi Berdasarkan Sistem Kekerabatan
    Pada umumnya dalam suatu sistem kekerabatan terdapat perbedaan antara hak dan kewajiban antar anggotanya.
  • Stratifikasi Berdasarkan Keanggotaan Dalam Kelompok Tertentu
    Stratifikasi ini terjadi dalam kelompok etnik dan ras tertentu yang berbeda-beda hak dan kewajibannya.

Diperoleh Melalui Serangkaian Usaha

  • Stratifikasi Sosial Dalam Pendidikan
    Orang-orang yang mampu menyelesaikan pendidikan formal sampai pada jenjang yang lebih tinggi, umumnya memperoleh hak dan kewajiban yang lebih beragam sehingga status sosial yang diperolehnya akan lebih beragam.
  • Stratifikasi Dalam Bidang Pekerjaan
    Stratifikasi ini sangat tampak pada instansi organisasi yang dikelola secara modern, dimana terdapat kedudukan yang berbeda-beda untuk pekerjaan sejenis.
  • Stratifikasi Dalam Bidang Ekonomi
    Stratifikasi ini sangat menonjol hampir di setiap kelompok masyarakat umum dimanapun. Pembedaan kelas sosial berdasarkan pada penghasilan dan kekayaan material.

Stratifikasi Sosial Berdasarkan Sifat

Berdasarkan sifatnya stratifikasi sosial dibagai menjadi sebagai berikut :

  • Stratifikasi Sosial Terbuka
    Dalam stratifikasi sosial terbuka, kelas sosial tidak tertutup, menyiratkan bahwa seseorang dapat memasuki kelas sosial tertentu yang diinginkan atau pergi setelah tiba di kelas sosial yang lebih tinggi. Seseorang juga dapat dikeluarkan jika tidak dapat memenuhi hak dan kewajiban yang ditunjukkan oleh kelas sosialnya.
  • Stratifikasi Sosial Tertutup
    Dalam sistem stratifikasi ini terdapat pembatasan kemungkinan perpindahan posisi seseorang dimulai dari satu lapisan sosial kemudian ke lapisan berikutnya. Cara terbaik untuk berada di lapisan tertentu adalah melalui kelahiran.

Bentuk Stratifikasi Sosial

Bentuk-bentuk sederhana stratifikasi sosial hampir terdapat di semua masyarakat. Ada beberapa bentuk stratifikasi sosial dalam masyarakt baik sekarang maupun dahulu yaitu :

  • Sistem Kasta
    Seperti yang ditunjukkan oleh Lumberg, kasta adalah kelas di mana anggota diberi nama dan diberi status jangka panjang dalam hierarki sosial dan hubungan mereka dibatasi oleh status mereka. Jenis stratifikasi ini sebagian besar terkait dengan ajaran agama Hindu.
  • Sistem Kelas Sosial
    Menurut Wood, kelas sosial terdiri dari berbagai individu yang memiliki status sosial yang sama dan biasanya didapat sejak lahir atau dapat juga diperoleh melalui usaha. Status dalam sistem kelas dapat diperoleh dengan menggunakan keahlian seseorang.
  • Sistem Feodal
    Dalam sistem ini stratifikasi didasarkan pada empat tingkatan dalam masyarakat yang disebut estate. Seluruh rakyat bersumpah untuk melayani penguasa yang kekuasaannya diterima sebagai hadiah dari Tuhan.
  • Sistem Apartheid
    Sistem stratifikasi ini telah diterapkan di Afrika Selatan, latar belakang etnis digunakan sebagai dasar untuk menentukan stratifikasi masyarakat. Sistem apartheid mengklasifikasikan individu ke dalam tiga kelompok ras yang signifikan: kulit putih, kulit hitam, dan etnis minoritas.

Perspektif tentang Stratifikasi Sosial 1. Perbedaan Asumsi Dasar

Penganut metodologi utilitarian biasanya akan menjawab bahwa stratifikasi sosial adalah sesuatu yang melekat dan diperlukan untuk kelangsungan sistem.

Sementara itu, penganut pendekatan contention akan menjawab sebaliknya dan menyatakan bahwa munculnya stratifikasi sosial sebenarnya hanya dibuat oleh kelompok-kelompok elit masyarakat dalam kemampuan untuk mengimbangi kekuatan mereka.

Jawaban dari kedua pendekatan ini tentu saja bermasalah karena keduanya memiliki asumsi dan pandangan yang berbeda.

2. Pendekatan Fungsional

Pelopor pendekatan fungsionalis adalah Kingsley Davis dan Wibert Moore. Menurut kedua ahli ini, stratifikasi diperlukan untuk kelangsungan hidup individu yang membutuhkan berbagai jenis pekerjaan. Tanpa stratifikasi sosial, individu tidak akan terstimulasi untuk mengejar pekerjaan yang sulit atau pekerjaan yang membutuhkan pengalaman pendidikan yang lama dan mahal.

READ ALSO :   Berikut ini Teks Laporan Percobaan

Stratifikasi sosial bagi penganut metodologi utilitarian adalah keniscayaan. Kebutuhan ini muncul dari kebutuhan masyarakat untuk menempatkan individu pada posisi yang membentuk struktur sosial, dan kemudian mendesak mereka untuk menyelesaikan tugas-tugas yang terkait dengan posisi tersebut.

3. Pendekatan Konflik

Pendekatan pertentangan memiliki asumsi yang mendukung metodologi Davis dan Moore. Dipelopori oleh Karl Marx, pandangan bahwa bukan utilitas praktis yang menciptakan stratifikasi sosial, melainkan kekuatan kekuatan.

Artinya, sebagaimana ditunjukkan oleh pendekatan contention, adanya stratifikasi sosial tidak dilihat sebagai hasil konsensus karena semua anggota masyarakat setuju dan membutuhkannya, melainkan karena anggota masyarakat setuju dan membutuhkannya, melainkan karena anggota masyarakat terpaksa mengakuinya. perbedaan karena mereka tidak dapat memutuskannya.

Faktor Penyebab Stratifikasi Sosial

1. Kekayaan

Kelimpahan dan gaji terkait erat; di mana bayaran sejumlah besar kelimpahannya juga akan meningkat. Variabel moneter ini akan menjadi salah satu ukuran stratifikasi sosial yang ada. Mereka yang kaya dan memiliki gaji besar akan memiliki hak istimewa; sedangkan mereka yang miskin dan tidak memiliki gaji berada di kelas bawah.

Ukuran menyatakan besaran atau ukuran sesuatu. Jika ukuran kelimpahan berarti ada ukuran kelimpahan yang pasti yang dapat dijadikan tolak ukur; dari sini kita mendapatkan ukuran kekayaan tinggi atau tinggi, ukuran sedang atau cukup dan ukuran kecil atau malang.

Kelimpahan sebagai ukuran dalam menentukan stratifikasi sosial walaupun ada kuantitasnya tetapi pada dasarnya bersifat komparatif dengan suatu masyarakat. Ukuran orang kaya di masyarakat pedesaan adalah wilayah kepemilikan dan penguasaan tanah dan sering dilambangkan dengan rumah berbentuk Joglo (di Jawa Timur dan Jawa Tengah); Namun tidak seperti halnya dengan masyarakat metropolitan yang dibarengi dengan gedung-gedung mewah serta mobil-mobil mewah sebagai simbol kelimpahan mereka.

Kelimpahan sebagai ukuran stratifikasi sosial dalam masyarakat masih tergantung pada situasi dan kondisi masyarakat yang bersangkutan.

2. Kekuasaan

Kekuasaan yang dicirikan sebagai kemampuan seseorang untuk mempengaruhi cara berperilaku seseorang atau perkumpulan untuk bertindak sesuai dengan apa yang diinginkan oleh individu yang memiliki kekuasaan merupakan tolak ukur stratifikasi sosial dalam masyarakat.

Besarnya kekuatan akan dihubungkan dengan ukuran dan tingkat dampak yang dimiliki seseorang dalam komunitasnya. Semakin luas dan tinggi dampak yang dimiliki seseorang, maka semakin tinggi stratifikasi yang dimilikinya dan semakin rendah dan bahkan tidak berdampak pada keberadaan seseorang dalam masyarakat, maka semakin rendah pula stratifikasi sosialnya.

Kekuasaan yang dimiliki seseorang bukanlah sesuatu yang hanya bersifat formal, seperti pejabat pemerintah lingkungan atau pejabat pemerintah lainnya. Kekuasaan itu sebagai ketundukan dan persetujuan seseorang untuk mengikuti apa yang menjadi anjuran atau perintahnya. Seorang kyai menasihati seseorang untuk berhenti meminum minuman keras atau merokok dan yang bersangkutan segera menghentikan perbuatannya, maka kyai tersebut memiliki kekuasaan yang tinggi atau kuat; Begitu juga dengan individu lain jika apa yang mereka inginkan ada keinginan dan individu melakukannya, maka orang tersebut memiliki kekuasaan yang tinggi atau kuat.

3. Kehormatan

Kehormatan yang diperoleh seseorang bukan dari dirinya sendiri, melainkan penilaian yang datang dari orang lain. Apakah seseorang dihormati atau tidak oleh orang lain benar-benar tergantung pada orang lain, bukan pada dirinya sendiri. Rasa hormat terhadap seseorang tidak muncul secara singkat, melainkan melalui proses waktu dan penilaian yang panjang.

Dengan demikian, rasa hormat itu seimbang, bukan subyektif. Penghargaan terhadap seseorang sebagai rasa hormat dapat bersumber dari kepribadian orang tersebut karena kejujuran, pengabdian agama, ketabahan mental karena dia sangat sederhana dan cara berperilaku yang ditunjukkan secara konsisten seperti membantu, menawarkan bimbingan kepada mereka yang kurang beruntung, dll yang dinilai oleh anggota masyarakat lainnya kapan saja. . Rasa hormat ini dimanifestasikan oleh individu lain yang akan memberikan penghargaan mereka terlebih dahulu atau terhubung untuk berjabat tangan atau duduk di sebuah pesta atau pertemuan di hadapan mereka sendiri atau di tempat yang sesuai dengan kehormatan mereka.

Misalnya: Kenduri di kota, biasanya mereka yang dihormati akan duduk di paling kiri paling utara dari kursi yang diberikan dan di sisi selatan akan dilibatkan oleh orang-orang yang kurang terhormat. Biasanya tempat ini melibatkan kepala kenduri (modin) dan pembawa berita kota atau orang-orang yang dihormati di kota itu. Sedangkan bagian paling selatan ekstrim kanan dilibatkan oleh kaum muda sebagai wakil dari kaum tua yang tidak dapat menghadiri pesta tersebut.

4. Pendidikan

Pelatihan di berbagai tingkatan ada di masyarakat kita, misalnya, dipisahkan menjadi sekolah dasar, instruksi menengah dan instruksi yang lebih tinggi. Hirarki ini juga menyatakan bahwa pelatihan adalah dimensi stratifikasi sosial ke atas. Mereka yang lulus dari perguruan tinggi biasanya diberikan gelas sesuai dengan keahliannya, seperti gelar SE atau SH di belakang nama yang menunjukkan bahwa mereka yang masuk SE dan SH adalah mereka yang pindah dari pelatihan yang lebih tinggi dengan keahlian Ekonomi untuk SE ( singkatan dari Sarjana Ekonomi) dan gelar SH. bagi mereka yang pindah dari pendidikan tinggi dari Fakultas Hukum, SH (Sarjana Hukum). Mereka yang pindah dari Jurusan Sosiologi menggunakan gelar S.Sos yang merupakan singkatan dari Sarjana Sosiologi. Gelar ini berada di tingkat sarjana.

Mereka yang telah pindah dari pendidikan menengah dan pengajaran dasar belum memperoleh gelar karena mereka tidak memiliki keterampilan khusus. Pada jenjang pendidikan yang lebih tinggi, terdapat jenjang lanjutan setelah sertifikasi sarjana, yaitu Magister khusus untuk jenjang S2 dan Doktor untuk jenjang S3.

Mereka yang memiliki tingkat S1, S2, S3 yang layak akan memiliki stratifikasi sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang telah menyelesaikan pendidikan menengah (sekolah menengah pertama dan sekolah menengah) serta mereka yang telah pindah dari sekolah dasar dan tidak melanjutkan sekolah. bahkan sesaat tamat SD dan tidak sekolah.

Ukuran Ilmu akan memasukkan dua ukuran, untuk lebih spesifik: pertama, ukuran yang tepat, khususnya sertifikat sebagai ukuran. Semakin tinggi derajat atau pengukuhan yang dimiliki maka semakin tinggi strata sosialnya dan semakin rendah ijazah maka semakin rendah strata sosialnya. Kedua, ukuran nonformal adalah profesional atau keahlian yang mereka miliki melalui keterampilan yang mereka lakukan. Mereka mendapatkan keterampilan ini tidak melalui sekolah yang layak. Ahli pengobatan pilihan, mereka mendapatkan keahliannya bukan belajar di Fakultas Kedokteran, melainkan didapat dari luar sekolah konvensional yang ada.

READ ALSO :   Berikut Ini Pengertian Dan Pencemaran Lingkungan

Proses Terjadinya Stratifikasi Sosial

Dilihat dari cara terbentuknya, pelapisan sosial dalam masyarakat dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :

1. Pelapisan sosial yang terjadi dengan sendirinya sesuai dengan pertumbuhan masyarakat yang bersangkutan.

Faktor – faktor yang dijadikan alasan / dasar terbentuknya pelapisan sosial yang terjadi dengan sendirinya adalah :

  • Kepandaian.
  • Tingkat umur
  • Sifat keaslian keanggotaan didalam kerabat pimpinan masyarakat (misalnya, cikal bakal, kepala desa, dsb)
  • Pemilikan harta
  • Peperangan.

2. Pelapisan sosial yang dengan sengaja disusun untuk mengejar tujuan tertentu.

Adapun stratifikasi, yang sengaja disusun untuk mengejar tujuan tertentu, biasanya dikaitkan dengan distribusi kekuatan kekuatan. Misalnya, apa yang terjadi dalam asosiasi yang tepat seperti pemerintah negara bagian, perusahaan, partai politik, militer, dan sebagainya.

Menurut Prof Soerjono Soekanto telah dirumuskan pedoman mengenai proses pembentukan pelapisan sosial sebagai berikut :

  • a. Sistem pelapisan sosial kemungkinan berpokok kepada sistem pertentangan dalam masyarakat.
  • b. Pelapisan sosial dapat dianalisa dalam ruang lingkup unsur-unsur sebagai berikut :
  1. Distribusi hak-hak istimewa yang obyektif seperti misalnya penghasilan, kekayaan, keselamatan, wewenang, dan sebagainya.
  2. Sistem pertanggan yang diciptakan oleh para warga masyarakat (prestise & penghargaan)
  3. Kriteria sistemn pertentangan, yaitu apakan didapatkan berdasarkan kwalitas pribadi, keanggotaan kelompok kerabat tertentu, milik, wewenang dan kekuasaan.
  4. Lambang-lambang kedudukan seperti tingkah laku hidup, cara berpakaian perumahan, keanggotaan pada suatu organisasi dan sebagainya.
  5. Mudah atau sukarnya bertukar kedudukan
  6. Solidaritas diantara individu-individu atau kelompok-kelompok sosial yang menduduki status yang sama dalam sistem sosil mesyarakat.

Sifat-sifat Stratifikasi Sosial

1. Sistem pelapisan sosial tertutup (Closed Stratification)

secara khusus membatasi kemungkinan seseorang untuk bergerak mulai dari satu lapisan kemudian ke lapisan berikutnya yang berada di atas atau di bawahnya. Dalam sistem seperti itu, cara terbaik untuk berubah menjadi bagian atau warga dari strata tertentu adalah melalui kelahiran.

Misalnya stratifikasi sosial dalam masyarakat kasta, masyarakat primitif, masyarakat yang menggunakan ras, politik agama, dan lain-lain.

Ciri masyarakat kasta di India, sebagai berikut :

  • Keanggotaan pada kasta diperoleh karena warisan atau kelahiran, sehingga seseorang secara sendirinya akan memiliki kedudukan dalam pelapisan sosial (kasta) seperti yang dimiliki oleh orang tuanya.
  • Keanggotaan yang diwariskan itu berlaku seumur hidup. Oleh karena itu, seseorang tidak mungkin mengubah kedudukannya, kecuali ia dikeluarkan atau dikucilkan dari kastanya.
  • Perkawinan bersifat endogami, artinya seseorang hanya dapat mengambil suami / istri dari orang – orang sekasta.
  • Hubungan dengan kelompk-kelompok sosial (kasta) lain sangat terbatas.
  • Kesadaran keanggotaan suatu kasta tampak jelas dari nama kasta, identifikasi anggota kepada kastanya, penyesuaian diri yang ketat terhadap norma-norma kasta, dan sebagainya.
  • Kasta terikat oleh kedudukan-kedudukan yang secara tradisional telah ditentukan.
  • Prestise suatu kasta benar-benar diperhatikan.

2. Sistem pelapisan sosial terbuka (Opened Stratification)

Artinya, setiap warga negara berkesempatan untuk naik ke strata sosial yang lebih tinggi karena kemampuan dan keterampilannya atau turun (jatuh) ke strata yang lebih rendah bagi mereka yang janggal dan malang.

Pada umumnya, jenis stratifikasi terbuka memberikan stimulus yang lebih penting untuk kemajuan dan peningkatan setiap individu dari masyarakat. Di sini, semua anggota masyarakat memiliki kesempatan untuk pindah mungkin karena prestasi atau prestasi.

Cara Mempelajari Stratifikasi Sosial

Menurut Zanden, di dalam sosiologi dikenal tiga pendekatan untuk mempelajari stratifikasi sosial, yaitu:

  1. Pendekatan Objektif
    Pendekatan objektif artinya, usaha untuk memilah-milah masyarakat kedalam beberapa lapisan dilakukan menurut ukuran-ukuran yang objektif berupa variabel yang mudah diukur secara kuantitatif.
  2. Pendekatan Subjektif
    Metodologi subyektif berarti bahwa munculnya stratifikasi sosial dalam masyarakat tidak diukur dengan kriteria asli, melainkan dipilih oleh kesadaran subyektif warga negara itu sendiri. Berbeda dengan pendekatan tujuan, di mana peneliti dapat mengatur kategori statistik, untuk metodologi subjektif, terstruktur adalah kategori sosial yang dijelaskan oleh kesadaran spesies. Seperti individu yang sebenarnya miskin dapat dianggap tidak miskin.
  3. Pendekatan Reputasional
    Pendekatan reputasi berarti bahwa stratifikasi sosial disusun sedemikian rupa sehingga subjek penelitian diminta untuk menilai status individu lain dengan menempatkan orang lain pada skala tertentu. Untuk mengetahui siapa di kota tertentu yang termasuk masyarakat kelas atas, peneliti menggunakan pendekatan reputasi dapat melakukan ini dengan menanyakan penduduk desa yang terkaya di kota atau menanyakan penduduk desa mana yang paling bertanggung jawab untuk diminta meminjamkan uang tunai, dll.

Determinan Stratifikasi Sosial

 

Jika dilihat dari tingkat kepangkatan di pemerintahan atau di dunia militer, posisi seseorang dalam struktur kepegawaian dapat dengan mudah diketahui. Ini berbeda dengan pertanyaan bagaimana mengidentifikasi posisi dalam struktur masyarakat yang sangat heterogen, misalnya, posisi mana yang lebih tinggi, kepala organisasi besar atau rektor universitas terkemuka?

Masih dirasakan bahwa sampai saat ini kepastian untuk mengukur posisi seseorang dalam struktur sosial belum memiliki tolak ukur yang pasti. Hanya saja secara keseluruhan jaminan stratifikasi sosial harus terlihat dari dimensi cukup tua, jenis kelamin, agama, arisan dan lain-lain.

Dalam struktur masyarakat yang semakin modern, perbedaan sosial yang dibentuk dan diciptakan dalam struktur masyarakat pada saat ini sebagian besar tidak didasarkan pada hal-hal supernatural seperti perbedaan jenis kelamin dan usia. Kemudian Jeffris dan Ransford membedakan dimensi stratifikasi sosial menjadi 3 macam, yaitu:

  1. Hierarki Kelas (Class Hierarchies)
  2. Hierarki Kekuasaan (Power Hierarchies)
  3. Hierarki Status (Status Hierarchies)

Leave a Reply

Your email address will not be published.